Liputan

Malam Solidaritas #JogjaIlangRoso Tribute to Our Sisters

Malam Keprihatinan Atas Hilangnya Rasa Kemanusiaan dan Kepedulian di DIY

 

Sepekan lalu kita dikagetkan dengan kejadian meninggalnya seorang perempuan muda yang ditemukan melahirkan di dalam kamar kosnya, selang beberapa hari, seorang perempuan muda dibunuh dan diduga mengalami kekerasan seksual. Dua kejadian kekerasan terhadap perempuan beruntun ini bukanlah yang pertama. Kejadian yang menimbulkan tanda tanya besar, benarkah Yogyakarta masih layak berslogan nyaman ketika rasa aman tidak terpenuhi. Kejadian dengan nuansa kekerasan seksual tersebut juga menohok kemanusiaan kita, apakah saat ini kita tidak memiliki ikatan antar sesama warga? Berkaca pada kasus yang baru saja terjadi, kepedulian dan guyub sesama warga yang selama ini dibanggakan oleh Yogyakarta mulai pudar dan perlahan menghilang. Karenanya, kami menggelar aksi keprihatinan.

 

Media juga menambah pedih duka seusai kejadian, lewat pemberitaan yang bombastis, kejadian kekerasan yang terjadi beruntun di Yogyakarta disajikan tanpa mengindahkan  kode etik jurnalistik. Pihak keluarga merasa terpukul dengan banyak pemberitaan yang menyudutkan dan menggiring opini publik atas kejadian. Mengungkap detail identitas korban bukanlah wujud kecermatan, media semestinya mampu menyajikan berita dengan perspektif korban.Untuk itu, kami menggelar aksi keprihatinan.

 

Kami menyebutnya, Malam solidaritas #JogjaIlangRoso Tribute to Our Sisters, bentuk keprihatinan kami atas hilangnya rasa kemanusiaan dan kepedulian di Yogyakarta. Kami ingin mengajak warga Yogyakarta merefleksikan berbagai kejadian kekerasan yang menimpa warga belakangan hari. Kami ingin Yogyakarta kembali menjadi Yogyakarta yang  aman dan nyaman bagi perempuan, juga seluruh warga tanpa terkecuali; penduduk yang lebih awal tinggal maupun yang belakangan datang. Kami ingin menggugah empati warga Yogyakarta, agar rasa kepedulian, kemanusiaan, tepa salira juga ikatan antar warga kembali tumbuh dan terjalin erat. Kami bersolidaritas lewat orasi dari Alissa Wahid, Budi Wahyuni (Komnas Perempuan), perwakilan keluarga korban, musikalisasi puisi dari Sulandari, Yab Sarpote juga penampilan dari Sisir Tanah, Dendang Kampungan, Ranissakustik dan Bara ft. Indun. Doa bersama di Nol kilometer menjadi titik refleksi, dukungan kepada kelurga dan korban agar diberi kedamaian. Dipimpin oleh pemuka lintas agama dan diiringi instrumen biola dan musisi oleh Tunes. Inilah cara kami menyampaikan keprihatinan atas Yogyakarta yang makin dihimpit tembok-tembok bertingkat, yang lagi-lagi mengornbankan perempuan, juga warga marjinal lainnya.

 

Kami mengajak semua warga Jogja memaknai duka dan kehilangan dengan kepedulian, tanpa perlu menstigma lagi. Kita semua saudara.

Salam Solidaritas!

 

Yogyakarta, 10 Mei 2015 | Monumen Batik dan Titik Km.0 | 19:00 – 22:00 WIB Jaringan Perempuan Yogyakarta – One Billion Rising Jogja – Perempuan Mahardhika – Jaringan Perempuan Pekerja Rumah Tangga DIY- Perempuan Indonesia Anti Korupsi Jogja – Save Street Child Jogja – Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia-Yogyakarta Contact Person : Ika Ayu ( 0818 278 587)

FIX FIX FIX

 

 

Comment here