Media CampaignPublic Opinion

Mencela Si Lajang, Mekanisme Pertahanan Diri Pasangan Monogami?

“Eh, si Anu bukannya uda mau kepala 3 ya? Masih single aja dia? Buset dah, gak laku apa gimana?”

“Makanya, cari pacar kek, nikah kek, ga enak kan sendirian?”

Frase-frase semacam itu sudah cukup menjamur dan akrab di telinga kita semua. Celaan dan candaan terhadap para “jomblo” ini dianggap sebagai hal yang sangat wajar dan biasa di masyarakat kita. Tapi, sebenernya kenapa sih kok kita sering banget denger orang-orang memandang para lajang atau “jomblo” sebagai kondisi yang susah dan mencela atau mengejek mereka?

Setidaknya ada 2 hal yang membuat orang gemar mencela para lajang. Pertama, karena kebiasaan meniru perilaku mayoritas orang secara otomatis, tanpa pernah berpikir ulang tentang alternatif yang lebih baik. Lelucon jomblo adalah candaan yang mudah, ibarat gaun hitam yang tak akan pernah gagal dipakai ke pesta atau pesanan nasi goreng yang tak akan salah. Kedua, yang ini cukup penting, orang berpasangan gemar melecehkan lajang karena mereka membutuhkannya sebagai mekanisme bertahan hidup (dalam hubungan). Karena membangun hubungan, khususnya monogami, membutuhkan kerja yang sangat keras, mereka sangat perlu menguatkan diri, lagi dan lagi. Mencela si lajang sebetulnya cara orang-orang ini bertahan, ibarat mengunyah permen ketika sedang terengah-engah mendaki gunung. Mereka butuh mengatakan kepada diri sendiri dan dunia, “lihat tuh orang yang sendirian, enggak enak kan.” Mereka perlu menguatkan diri setiap waktu, karena hubungan monogamis adalah perjalanan mendaki yang panjang, seperti maraton serial tiada akhir (sampai maut memisahkan kita).

Celaan kepada mereka yang masih melajang atau memilih untuk melajang tidak hanya umum di kalangan masyarakat, para pemimpin daerah yang jadi panutanpun bisa sampai menyorot para “jomblo” ini. Sebut saja, Ridwan Kamil yang selama ini cukup kita dengar dengan candaan seksisnya yang memprihatinkan. Atau, wakil gubernur DKI Jakarta baru, Sandiaga Uno yang sampai punya program Kartu Jakarta Jomblo. Entah apa tujuan dan motif dibalik semua perhatian terhadap para lajang ini, tetapi di lain sisi ini jelas meletakkan para lajang yang memilih menjadi lajang menjadi tidak nyaman karena pilihannya disorot sebagai sebuah “penderitaan”.

Tidak perlu terlalu jauh mengambil contoh. Ambillah contoh pasangan bapak dan ibu kita yang sampai hari ini masih dalam keluarga yang harmonis. Perlu diakui bahwa mempertahankan pernikahan atau hubungan monogami baik dalam pernikahan ataupun tidak bukan perkara yang mudah. Mayoritas orang beranggapan bahwa dengan status “MENIKAH” yang diakui negara, para pasangan dapat menjalani relasi dan komitmen monogaminya dengan lebih lancar karena “diakui” negara dan otomatis semua orang tahu bahwa ia sudah berpasangan. Padahal, tidak sedikit juga pasangan yang berkomitmen tanpa menikah dan mampu menjalani relasi dan komitmen monogami hingga “maut memisahkan”.

Tulisan ini bukan tulisan untuk kampanye anti-pernikahan, melainkan semacam ajakan untuk melihat pernikahan dengan cara yang baru. Jika pernikahanmu terasa berat bahkan menyiksa, santai kawan, kau tak sendiri. Tak perlu merasa buruk, dan terlebih tak perlu mencari kompensasi dengan mencela orang lain yang tidak melalui jalan yang sama. Terimalah sebagai bagian dari kewajaran. Pernikahan yang kandas, juga bukan berarti kegagalan.

Mereka yang memilih tidak menikah bisa jadi melakukan keputusan yang tepat karena untuk apa berinvestasi sedemikian besar kepada suatu lembaga yang sejak awal tidak dirancang untuk tahan lama. Mereka yang ingin menikah tapi belum kesampaian, tidak perlu merasa sedemikian malangnya, sebab pernikahan hanyalah salah satu jalan untuk bahagia, yang belum tentu juga berhasil setelah resepsi yang terlalu mewah. Dan jika pun pernah bahagia, tak ada jaminan awet pula. Ia bisa berguna, bisa membuat sengsara, tapi pun bukan segalanya. Pernikahan hanyalah institusi rancangan manusia zaman lalu, yang sewajarnya bisa kadaluwarsa, bahkan mungkin tak terlampau relevan lagi dengan situasi saat ini.

Baik yang menikah dan tidak menikah, kita semua punya tugas bersama untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik bagi anak-anak masa depan, apakah itu anak-anak kandung kita atau bukan. Butuh sekampung untuk membesarkan seorang anak, demikian pepatah Afrika. Keluarga selayaknya menjadi tempat yang aman, landasan yang sangat dibutuhkan seorang anak untuk memulai kehidupannya, dan belajar mencerna segala sesuatu tentang dunia ini. Tapi orang lain, termasuk mereka yang tidak atau belum menikah adalah orang-orang sekampung itu, yang juga wajib bekerja untuk memberikan ruang hidup yang terbaik bagi generasi selanjutnya. Tidak perlu merasa kurang atau lebih dibanding yang lain, karena kita semua pada dasarnya hanya sedang berbagi tugas saja.

Orang-orang yang melecehkan lajang adalah pribadi-pribadi kerdil yang merasa tidak aman, dan membutuhkan semua upaya yang mereka tahu untuk menjadi lebih kuat, karena mereka pikir cara terbaik hidup di dunia adalah dengan menikah.

Untuk menghadapi mereka sama dengan menangani perisak jenis lain, yakni dengan mengasihani mereka. Atau jika Anda sedang merasa punya waktu dan energi berlebih, coba katakan, “Hei, tahu tidak, pernikahan itu kan sebenarnya bukan dirancang untuk hubungan jangka panjang?”

Mungkin di lain waktu mereka akan mencari Anda untuk curhat tentang kemelut rumah tangga mereka.

 

**Artikel asli dari tulisan ini ditulis oleh Feby Indirani, penulis 69 Things to be Grateful About Being Single (GPU, 2017). Diterbitkan di website Magdalene.co pada hari Senin, 27 November 2017. Tautan menuju artikel asli, silakan klik disini.

 

 

Comment here