“Eh emang ga sakit?”

“Ga ‘ngganjel’ apa di vagina?”

“Yah, ga bisa dipake buat yang masih gadis/perawan dong.”

“Wah, nanti robek selaput daraku, ouch!”

“Yuck.. geli bayanginnya. Kayak ada penis nempel trus dibawa kemana-mana.”

Tanggapan-tanggapan di atas saya terima ketika teman-teman saya yang sesama perempuan tahu bahwa saya sudah tidak lagi menggunakan pembalut ketika menstruasi dan beralih menggunakan cawan menstruasi atau menstrual cup. Penjelasan saya bahwa pemakaian cawan menstruasi ini tidak menimbulkan iritasi bagi saya atau bahwa saya nyaman dan seolah seperti tidak menggunakannya serta yang paling saya tekankan adalah saya jadi lebih irit karena cawan ini bisa digunakan hingga bertahun-tahun ternyata tetap mental dengan “kengerian” mereka sendiri.

Judul tulisan ini mungkin sedikit membuat dahi mengernyit. Apa hubungannya cawan menstruasi dan flush toilet dengan keperawanan? Ada-ada saja. Tapi sadarkah kita bahwa masyarakat kita seringkali takut, ngeri, atau parno dengan sesuatu yang ada-ada saja?

Disadari atau tidak, diakui atau ditolak, masyarakat kita dengan norma sosialnya memiliki obsesi yang luar biasa terhadap keperawanan. Berbeda dengan keperjakaan, kalo kata orang, keperawanan bisa dibuktikan pake selaput dara, kalo keperjakaan mah susah. Nah, ini dia yang membuat perempuan jadi sangat rentan terhadap kekerasan seksual.

Harga diri seringkali dikaitkan dengan keperawanan seorang perempuan. Jika seorang perempuan sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, banyak yang memandang bahwa perempuan itu sudah “turun” harga dirinya atau akan ada sebutan “perempuan murahan” bagi beberapa perempuan yang “ketahuan” sudah pernah berhubungan seks lebih dengan lebih dari satu laki-laki. Dipikir perempuan itu barang apa, dikatain murah atau mahal? Ini dia akarnya, di budaya kita, perempuan dipandang sebagai obyek yang “punya harga” mirip dengan “harga perempuan” yang harus dibayar laki-laki ketika hendak meminangnya di beberapa budaya.

Beberapa waktu silam saya dan rekan-rekan gerakan sempat dibuat “tersenyum simpul” dengan kicauan perempuan muda di Twitter. Dari percakapan di medsos tersebut, ia tampak sedang kesal dengan sebuah flush toilet yang terlalu kencang semburan airnya. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa semburan air dari flush ini akan merusak keperawanannya. Coba simak gambar berikut. Nama akun sebenarnya tidak disensor, tetapi saya pikir, saya ga pengen juga ini embak di bully karena yang baca artikel tau akunnya 😀 

Jika kita sudah memiliki perspektif dan pengetahuan yang cukup, twit ini akan jadi sedikit lucu mungkin, tetapi di sisi lain ada rasa sedih bagi saya pribadi sebagai seorang aktivis, edukator kesehatan seksual dan reproduksi, serta seorang konselor. Ini menunjukan bahwa PR saya masih banyak karena anak muda yang bisa main Twitter aja sampe masih berpikir begitu soal keperawanan dan flush toilet.

Masyarakat kita dari sejak jaman dulu menetapkan konsep keperawanan yang diukur dari utuhnya selaput dara. Mitos semacam “kalau perawan pas malam pertama pasti berdarah” yang semakin langgeng karena di-capture di beberapa film Indonesia atau sinetron membuat posisi perempuan semakin tersudut dan lemah. Tidak berbeda dengan penggunaan cawan menstruasi. Masyarakat kita tidak familiar dengan cawan ini dan menganggap ini adalah kebiasaan orang “barat” karena kalau disana pasti remaja aja uda pada ga perawan euy.

Obsesi terhadap keperawanan ini pun memiliki potensi luar biasa meningkatkan angka kekerasan terhadap perempuan. Saya sering membaca berita dimana pelaku pemerkosaan mengatakan,”Ya saya perkosa dia toh saya tahu dia udah ga perawan lagi, kalau pakai baju juga seksi-seksi begitu, gimana orang tidak tergoda.”

Lagi-lagi salah perempuan. Salahkan pakaiannya, salahkan ke-tidak-perawan-an-nya.

Pandangan semacam ini menurut saya menjadi sebuah pandangan yang cukup “primitif” karena kita semua pasti sepakat bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh keperawanan atau keperjakaannya, tidak ditentukan dari cara mereka berpakaian, atau status pernikahan, ekonomi, dan sosial, apalagi gender dan orientasi seksualnya. Harga diri seorang perempuan jauh lebih luas dan kompleks dari sekedar aspek kacangan stigmatis bernama “keperawanan”.

Lihatlah para perempuan Indonesia yang berprestasi di berbagai bidang, pentingkah kita mempermasalahkan apakah dia masih perawan atau tidak? Lihatlah, Yusdarita, seorang penyintas kekerasan konflik Aceh yang diculik orang tak dikenal tahun 2000 dan mendapatkan kekerasan. Ia kini menjalankan kebun kopinya dan menepis semua cibiran masyarakat termasuk keluarganya yang mengatainya murtad. Atau, kita semua pasti familiar dengan Oprah Winfrey atau Lady Gaga yang dalam perjalanan hidupnya mengalami kekerasan seksual, perkosaan, kekerasan domestik hingga jatuh dalam depresi yang tidak mudah. Perempuan-perempuan ini berharga lebih dari sekedar utuh atau tidaknya selaput dara.

Tugas besar kita bersama sebagai seorang yang terdidik dan mampu mengakses informasi adalah meluaskan perspektif dan memastikan terpenuhinya hak asasi manusia dasar sejak dini. Anak-anak perlu dan berhak mendapatkan edukasi dan akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komperehensif. Mereka perlu diajak keluar dari keterkungkungan pola pemikiran yang menyorot jenis kelamin atau identitas gender mereka.

Dengan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi yang komperehensif, kita mampu meminimalisir potensi kekerasan seksual pada anak, kita pun akan mampu memberikan pemahaman mengenai mutual consent bagi para remaja yang sudah mulai seksual aktif untuk bisa mempertimbangkan keputusan berhubungan seksual yang akan memberi efek pada menurunnya angka kehamilan tidak diinginkan (KTD), HIV-AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS), aborsi tidak aman, dan komplikasi pasca melahirkan yang menyumbang angka terbesar Angka Kematian Ibu (AKI).

Tanpa kita sadari, dengan membuka perspektif yang luas dan komprehensif, kita membantu negara mengurangi angka kemiskinan karena perempuan yang berpendidikan akan dapat mengakses lapangan pekerjaan yang layak dan menghidupi dirinya.

Jadi, maukah kita bergerak dan bicara mulai sekarang dan mendobrak stigma?

 

(tz)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *