Program

“MATOLAS”

Penguatan Kesadaran Struktural

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja

Di Kabupaten Timor Tengah Utara – Propinsi Nusa Tenggara Timur

 

Matolas berasal dari Bahasa Dawan[1], yang secara harfiah berarti ”Berkumpul”. Matolas adalah sebuah tradisi dialog yang dilaksanakan oleh masyarakat Dawan berdasarkan falsafah hidup mereka yaitu nekafmese ansaofmese (sehati sejiwa). Kegiatan “berkumpul dan berdialog” ini pada umumnya dilaksanakan di Lopo Naek atau Lopo Matolas (yang berarti lumbung besar). Matolas berfungsi sebagai ruang pengambilan keputusan baik dalam penyelesaian masalah maupun perencanaan kegiatan. Dalam Matolas ini, proses diskusi akan diikuti oleh seluruh kelompok masyarakat baik itu perempuan, laki – laki, orangtua dan anak, termasuk di dalamnya adalah remaja.

Program Matolas ini merupakan program lanjutan, yang di design bersama antara IHAP, ARBI dan RATUPERJA. Design program ini merupakan hasil refleksi bersama dalam kegiatan workshop evaluasi program yang berlangsung hampi dua setengah tahun sebelumnya. Sekian banyak aktifitas bersama, mulai dari diseminasi informasi di 10 SMA-K di Kab. TTU, hingga penguatan advokasi kebijakan alokasi APBD 2015 alokasi APBD 2015 untuk kegiatan HKSR di kabupaten TTU melalui 4 SKPD (Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga, Dinas Sosial, Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana), pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, dan pendampingan kepada 5 kelompok remaja yang masing – masing beranggotakan 25 orang.

Kerja-kerja pengorganisasian menjadi metode utama yang diyakini dapat “membawa perubahan pada sesuatu yang lebih baik” bagi individu remaja, komunitas dan stakeholder untuk mengupayakan proses bersama. IHAP meyakini bahwa kerja pengorganisasian adalah landasan utama dalam proses membangun kesadaran structural. Proses perubahan yang sedang dilakukan adalah membongkar hegemoni atas budaya dan tafsir agama yang bias, maka dibutuhkan perubahan perilaku, kesadaran dan penguatan kapasitas serta perlu dilanjutkan dengan proses memelihara pengetahuan baru tersebut. Banyak hal yang dapat menjadi sarana dan wadah untuk mewujudkan perubahan tersebut seperti salah satunya formal meeting dan informal meeting, yang diharapkan dapat membangun kesadaran  perlahan ��������� lahan secara organic dan manusiawi. Ketika kesadaran semakin menguat maka hegemoni atas budaya dan tafsir agama yang bias secara perlahan – lahan pun akan tereduksi. IHAP meyakini inilah terjemahan kami atas critical pedagogy[2] yang dikembangkan oleh Paulo Freire.

Di dalam program ini, IHAP akan menitik beratkan kerja pada 3 hal, yaitu mendorong kelembagaan local remaja sebagai pelaku utama perubahan, pemerintah dan masyarakat dalam penyediaan lingkungan yang kondusif, serta komitmen bersama dalam bentuk layanan komprehensif yang berkelanjutan.

Di sisi lain, IHAP mencatat fakta bahwa sesungguhnya forum diskusi antara remaja dengan orangtua (termasuk pemerintah) bukanlah hal yang baru dan asing bagi masyarakat Dawan di Kabupaten TTU. Hal ini dikarenakan bahwa tradisi berkumpul dan berdialog telah menjadi salah satu tradisi turun temurun, yang disebut sebagai Matolas. Semangat Matolas yang merupakan perwujudan dari falsafah hidup orang Dawan “Nekafmese Ansaofmese” inilah yang akan dikembangkan IHAP untuk menjadi ruh atas program kerja advokasi HKSR remaja di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2015 – 2016.

 

 

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Dawan

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Critical_pedagogy


Share This: