MASA depan bangsa dan negara juga berada di tangan perempuan. Untuk itu, para remaja di Kota Kupang harus memanfaat- kan Get Up Speak Out (GUSO) untuk kepentingan diri dan masyarakat.

Hal itu disampaikan Plt Wali Kota Kupang Johanna Lisapaly dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Asisten II Kota Kupang Djama Mila Meha pada launching GUSO di aula Sasando, lantai III Balai Kota Kupang, Rabu (14/12).

Johanna mengatakan, Pemkot Kupang menyambut baik program GUSO di Kota Kupang. Sebelumnya program tersebut dilaksanakan di Kabupaten TTU.

Masa depan bangsa, katanya, juga berada di tangan perempuan. Karena itu, diharapkan pertemuan seperti itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan bersama, terutama para pelajar di Kota Kupang.

Kegiatan tersebut, lanjutnya, sangat baik untuk diri sendiri dan orang lain. “Kita tidak ingin terjerumus dalam hal yang merugikan diri kita. Karena itu, kita harus lebih baik dari TTU. Anak-anak kota harus lebih bisa dari di kabupaten,” tegasnya.

Untuk itu, dia mengajak para remaja di Kota Kupang mengikuti kegiatan GUSO dengan baik agar tujuan mulianya bisa dicapai. Dengan demikian, masa depan Kota Kupang, serta bangsa dan negara bisa berjalan sesuai dengan harapan bersama.

“Kuncinya ada di situ. Karena itu, bila adik-adik tidak ikuti dengan baik, berarti rugi sendiri. Tidak semua remaja dan orangtua punya kesempatan seperti ini. Hanya mereka yang peduli pada masa depan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara yang beroleh kesempatan ini,” tukasnya.

Koordinator Instituta Hak Asasi Perempuan (IHAP) NTT Maria Eustachia mengatakan, Get Up Speak Out (GUSO) merupakan aksi kolaborasi antara LSM, remaja, pemerintah, dan masyarakat yang berbentuk kemitraan sejajar antara orang muda dan dewasa. GUSO adalah hasil refleksi kritis atas program sebelumnya yang bernama Access, Service, dan Knowledge (ASK) Melalui Program ASK, disadari bahwa hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) remaja bukan semata-mata perseoalan kesehatan dan pendidikan. Meningkatnya pengetahuan remaja dan penyediaan layanan kesehatan seksual dan reproduksi tidak serta merta menjawab persoalan HKSR.

“Persoalan HKSR adalah persoalan lintas sektor, yang merupakan dampak sekaligus akibat dari serangkaian permasalahan sosial lainnya. HKSR bukan saja persoalan remaja, namun juga persoalan orang dewasa, pemerintah, bahkan negara. Permasalahan HKSR adalah permasalahan kita semua,” tegas Maria.

Menurutnya, GUSO meyakini bahwa akan bisa memperoleh HKSR dalam masyarakat produktif, setara, dan sehat melalui lima pilar perubahan. Lima pilar perubahan itu adalah aliansi yang kuat dan berkelanjutan, gerakan remaja yang mampu menyuarakan haknya, pemanfaatan comprehensif sexuality education, pemanfaat youth friendly services, serta dukungan masyarakat dan pemerintah dalam pemenuhan HKSR sensitif gender dan ramah remaja.

Di NTT dan Kota Kupang, katanya, HKSR bukan barang baru. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya program yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi remaja yang sudah berjalan. Karena itu, tugas GUSO nantinya berproses bersama untuk menguatkan yang sudah ada dan mendorong sinergi kerja antara instansi dan kelompok.

“Pada akhirnya izinkanlah IHAP bersama SIMAVI dan Aliansi Satu Visi mempersembahkan GUSO bagi remaja, masyarakat, dan Pemerintah Kota Kupang, serta bagi kita semua. GUSO adalah sebuah janji. GUSO adalah sebuah gerakan bersama. GUSO adalah sebuah harapan akan masa depan yang lebih adil dan setara,” tandas Maria. (H-1)

Sumber : http://www.vnewsmart.com/remaja-putri-harus-manfaatkan-guso/

Share This:

Remaja Harus Manfaatkan GUSO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *