Festival Tattoo Untuk Hak Asasi Manusia

Kupang, 21 Oktober 2017

“Semua manusia terlahir secara bebas dan setara”, yang merupakan prinsip moral utama menjadi seorang manusia. Pernyataan ini terdapat pada pembukaan Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang disahkan oleh PBB pada 10 Desember 1948. DUHAM sendiri terdiri dari 33 pasal yang pada akhirnya dikemas dalam sebuah proyek seni yang dikenal dengan Human Rights Tattoo sebagai kampanye untuk membangun kesadaran akan pentingnya Hak Asasi Manusia (HAM). Human Rights Tattoo yang diterapkan pada 6773 kulit dari orang-orang di seluruh dunia berharap bahwa setiap 1 cm yang dirajah di tubuhnya menjadi pengingat sekaligus cerita yang dapat dibagikan kepada masyarakat luas mengenai hak-hak asasi manusia. Ide awal Human Rights Tattoo datang dari seorang seniman bernama Sander van Bussel yang tergabung dalam Tilburg Cowboys, sebuah komunitas di Belanda yang terkenal dengan proyek seni sosialnya.

Seni merajah tubuh atau tattoo sebenarnya bukanlah sesuatu yang tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa suku asli Indonesia seperti pada suku Dayak, masyarakat Mentawai, masyarakat Dawan di Malaka, serta masyarakat di Pulau Sumba dan Pulau Timor. Bagi suku-suku ini, tattoo menjadi sebuah ritual sakral yang memiliki makna mendalam baik sebagai penanda kedewasaan seseorang, perlindungan diri, ataupun simbol keseimbangan alam dan keindahan. Sebuah sejarah menuturkan bahwa para perempuan Dawan merajahkan tattoo pada semua perempuan, guna menolak penjajahan Jepang di Pulau Timor dengan mengumpulkan para perempuan untuk dijadikan budak seks. Sejak saat itu, tattoo dipilih sebagai sebuah bentuk perlawanan agung kaum perempuan Timor atas dominasi penjajah, serta symbol kedaulatan tubuh mereka sebagai individu perempuan sekaligus bangsa yang bermartabat.

Berangkat dari makna keagungan perlawanan perempuan Timor dan kesakralan tattoo dalam budaya asli Indonesia menggugah Insitituta Hak Asasi Perempuan (IHAP), Teman Belajar Remaja Kupang (TeBe RK) dan Aliansi Satu Visi (ASV), dengan dukungan dari Simavi, untuk mengundang tim Human Rights Tattoo hadir di Kota Kupang dalam acara Festival Tattoo For Human Rights. Acara ini dilangsungkan beriringan dengan peringatan Sumpah Pemuda dengan harapan mampu membakar semangat para putra dan putri bangsa untuk mengingat budaya asli Indonesia dan bersama mengkampanyekan pentingnya Hak Asasi Manusia (HAM) bagi semua individu tanpa terkecuali.

Acara Tattoo For Human Rights Festival yang akhirnya merajah kulit 45 orang dengan huruf-huruf dari pernyataan dalam DUHAM ini diadakan di Taman Nostalgia Kota Kupang dimana terdapat Gong Perdamaian Nusantara yang menjadi simbol keseimbangan kehidupan, kebanggaan, dan citra baik daerah yang menerimanya. Gong Perdamaian ini menjadi simbol pemersatu seluruh suku dan bangsa menuju perdamaian abadi setelah peristiwa November Kelabu 1998 yang terjadi di Kota Kupang. Gong Perdamaian diberikan ke Kota Kupang karena Kota Kupang menjadi kota dan provinsi dengan tingkat toleransi di Indonesia. Pada Gong Perdamaian Nusantara ini terdapat 32 logo propinsi seluruh Indonesia dan simbol 6 agama yang diakui di Indonesia.

Tattoo For Human Rights Festival didukung oleh 3 tattoo artist lokal yaitu Teddy Bulan, Pedro, dan Ray ini tidak hanya acara tattoo semata, tetapi akan dimeriahkan dengan talkshow dari Teman Belajar Remaja Kupang (TeBe RK) dan Aliansi Remaja Biinmafo (ARBI) dari Kefemenanu, Dinas Kesehatan Provinsi Nusat Tenggara Timur, dan beberapa aktivis perempuan senior di NTT yang membahas Hak Asasi Manusia (HAM) dari berbagai sudut pandang. Didukung juga dengan live music oleh Ivan Nestorman serta sebuah selfie competition yang mengusung tema Sexuality is Spirituality. Kompetisi selfie ini mengajak para partisipan yang datang ke acara Tattoo For Human Rights Festival untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Kompetisi selfie ini sebagai salah satu media kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran akan HAM di semua kalangan.

Tattoo For Human Rights Festival ini diadakan berlangsung meriah dari pukul 14.00 WITA hinga 21.30 WITA setelah sebelumnya Kota Kupang diguyur hujan lebat semenjak pagi menjelang siang hari.

Supported by:

LOGO IHAP BARU MASTER     thr     simavi

18813979_443268759382165_6613000135708106998_n                                                 

(tirzaongaimei)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *