Logo IHAP id

Prinsip Kerja Organisasi

Dalam menjalankan kerja-kerja organisasi, Instituta Hak Asasi Perempuan mempunyai prinsip kerja yang harus dijalankan oleh para anggotanya. Berikut prinsip-prinsipnya:

Dalam pelaksanaan kerjanya, IHAP akan menerapkan prinsip-prinsip inklusivitas dalam melakukan sensitisasi terhadap lingkungan, dan penghapusan hambatan terhadap akses (fisik dan sikap terkait komunikasi dan kebijakan). Remaja merupakan aktor utama dalam program, adapun strategi untuk memastikan inklusivitas telah dikembangkan yakni dengan cara memperkuat berbagai Forum Remaja yang beranggotakan remaja dengan beragam identitas dan tidak terlayani, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemberi layanan pendidikan dan pemangku kepentingan kunci di daerah masing-masing yang bersama-sama akan mengembangkan sebuah pendekatan yang responsif dan peka terhadap kebutuhan kelompok yang tidak terlayani.

Berbagai studi dan dokumentasi pelaksanaan program, menunjukkan
bahwa salah satu akar persoalan ketidakadilan adalah relasi kuasa yang timpang. Ketidaksetaraan relasi kuasa tersebut dapat terjadi dalam kerangka pribadi, seperti relasi antar jenis kelamin, gender, usia; kerangka masyarakat, seperti relasi antara mayoritas dan minoritas dalam beragam konteks; serta dalam kerangka negara, yaitu antara pemangku kebijakan dengan masyarakat.

Komitmen dalam menjamin kemitraan sejajar, baik pada level pelaksana program maupun kelompok sasaran adalah sebuah keharusan, sebagai perwujudan nilai sisterhood (persaudaraan).

Secara umum, HKSR remaja tidak ditangani secara efektif oleh para pemangku kepentingan di Indonesia. Kenyataan ini menghambat perilaku pencarian kesehatan oleh remaja dan akses mereka terhadap layanan yang mengakibatkan hal-hal negatif seperti aborsi yang tidak aman, peningkatan HIV dan IMS. Dengan melibatkan masyarakat dan membuka dialog tentang HKSR remaja dengan mengadopsi pendekatan hak asasi manusia dan membahas HKSR dalam konteks 'seks-positif' dengan pendekatan sosial- budaya yang tepat, diharapkan akan terjadi pergeseran paradigma dan masyarakat akan mulai melihat HKSR remaja sebagai investasi dalam pembangunan dan generasi masa depan Indonesia. Tantangan yang dihadapi yakni untuk mengeksplorasi keyakinan lokal dan interpretasi agama yang menghargai keragaman, kesetaraan dan keadilan, melakukan klarifikasi nilai-nilai tentang seksualitas manusia secara terus menerus, serta menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan keyakinan lokal dan interpretasi agama. Pada saat yang sama tokoh agama dan masyarakat serta pejabat pemerintah akan diminta untuk berpartisipasi dalam kampanye seks-positif.

Dalam rangka mewujudkan semua remaja menikmati hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) mereka dalam masyarakat yang produktif, setara dan sehat, penting untuk menggunakan pendekatan multi komponen. Pendekatan ini menghubungkan tiga unsur, yaitu permintaan, pasokan dan dukungan yang sangat penting untuk pemenuhan HKSR remaja. 

Pada level permintaan (demand), berbagai upaya untuk mendorong peningkatan kesadaran kritis remaja maupun actor pendukung lainnya (keluarga, tokoh agama, tooh masyararakat, aparatur pemerintah, jurnalis dan sebagainya) adalah sebuah dasar kerja pengorganisasian, guna memastikan kelompok-kelompok yang terdiskriminasi maupun berpotensi terdiskriminasi dapat menyuarakan dan merebut (reclaiming) hak mereka, termasuk HKSRnya. 

Pasokan (suplay) layanan-layanan yang tercakup dalam HKSR akan diupayakan melalui pelaksanaan startegi advokasi berbasis bukti (evidence based advocacy), sejalan dengan upaya-upaya peningkatan kesadaran kritis tokoh-tokoh (champion) pemangku kebijakan dalam pemberian layanan pendidikan, kesehatan, serta penanganan kekerasan berbasisi gender dan seksualitas. 

Dukungan (support) public terhadap kerja-kerja advokasi dan pengorganisasian actor-aktor kunci sasaran program akan diupayakan melalui serangkaian strategi membangun kesadaran public, baik melalui platform online maupun offline.

Untuk memastikan seluruh intervensi program tidak akan mengeksploitasi gender, tidak memihak gender maupun tidak melihat gender, Pendekatan Transformatif Gender (Gender Ttransformative Approach-GTA) sangatlah penting untuk mengubah hubungan gender yang mempromosikan kesetaraan sebagai sarana untuk mencapai hasil kesehatan yang positif dan mendorong perubahan perilaku yang positif. GTA secara aktif berupaya memeriksa, mempertanyakan dan mengubah norma-norma gender yang berbahaya dan ketidakseimbangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki dengan mendorong pemeriksaan norma secara kritis di kalangan perempuan dan laki-laki, memperkuat norma kesetaraan gender dan mengubah norma ketidaksetaraan gender. GTA perlu diintegrasikan ke dalam berbagai upaya untuk menjangkau laki-laki, anak laki-laki, perempuan dan anak perempuan; tanpa melihat orientasi seksual dan identitas gender mereka. GTA melibatkan masyarakat untuk menantang konstruksi maskulinitas dan femininitas yang berbahaya dan terbatas yang mengakibatkan kerentanan dan ketidaksetaraan dalam kaitannya dengan gender, menghambat kesehatan dan kesejahteraan. Tujuan dari GTA adalah untuk mempromosikan kesetaraan gender, mencegah kekerasan dan meningkatkan status kesehatan. Dengan demikian, GTA akan diintegrasikan dalam semua aspek pemrograman dan kebijakan, termasuk rancangan, pelaksanaan dan evaluasi program. 

Adalah metode pendidikan yang ditemukan dan dipopulerkan oleh Paulo Freire, yang disebut sebagai “Pendidikan Kaum Tertindas”. Yaitu sebuah sistem pendidikan yang ditempa dan dibangun kembali bersama dengan, dan bukan diperuntukkan bagi, kaum tertindas. Sistem pendidikan pembaharu ini, kata Freire adalah, pendidikan untuk pembebasan—bukan untuk penguasaan (dominasi). Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan sosial-budaya (social and cultural domestication). Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia, dan karena itu, secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total—yakni prinsip bertindak untuk mengubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk mengubah kenyataan yang menindas tersebut.

Sejalan dengan komitmen pendidikan kaum tertindas, maka prinsip analisa social (ansos) yang berorientasi pada keadilan adalah kerangka utama yang akan menjadi ruh dalam setiap intervensi program. Ansos diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi sosial dengan menelaah kaitan-kaitan historis, struktur sosial, mendalami fenomena-fenomena sosial, kaitan-kaitan aspek politik, ekonomi, budaya dan agama. IHAP berkomitmen bahwa pendekatan Ansos akan ditempatkan sebagai alat utama untuk melihat dan mendalami sebuah realita-realitas sosial di masyarakat secara kritis.

Gradient Tab Example